Di tahun 2026 ini, penggunaan AI sudah tidak asing lagi bagi khalayak umum. Hal ini juga didukung oleh data Similarweb yang dikutip oleh wearesocial, dimana ChatGPT yang termasuk ke dalam Generative AI menempati posisi ke-4 di daftar web yang paling sering dikunjungi di Indonesia pada tahun 2025.

Sumber: wearesocial
Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa ChatGPT dapat membantu kita sehari-hari, baik dalam proses pembelajaran, bekerja, atau bahkan hanya sekedar untuk bertukar pesan. Namun apakah itu berarti penggunaannya serba positif? Untuk memahami lebih dalam apa itu AI dan pro-kontranya, kita mulai dari pengertiannya dulu, yuk!
Apa itu AI (Artificial Intelligence)?
Menurut Google Cloud, AI adalah bidang ilmu komputer yang berfokus pada pembuatan mesin cerdas yang dapat melakukan tugas yang biasanya memerlukan kecerdasan manusia, seperti belajar, menalar, dan memecahkan masalah. Sistem AI belajar dari sejumlah besar data, mengidentifikasi pola untuk membuat prediksi atau keputusan tanpa diprogram secara eksplisit untuk setiap skenario. Singkatnya, seperti mengajari komputer dengan menunjukkan satu juta contoh, alih-alih menulis satu juta aturan.
Beda AI dengan Generative AI
AI sebenarnya adalah umbrella term untuk semua jenis kecerdasan artifisial, sedangkan Generative AI (seterusnya akan disebut Gen AI) termasuk kedalam subset AI. Yang membuat Gen AI lebih mencolok adalah kemampuannya dalam memberikan output sesuai dengan prompt atau permintaan user. Output atau hasilnya sendiri dapat berupa audio, gambar, kode software, teks, atau video. Tidak semua AI adalah Gen AI, sedangkan Gen AI sudah pasti termasuk ke dalam AI.
Pro dan Kontra Generative AI
Menurut University of Leeds, berikut adalah pro dan kontra Gen AI:
Pro
Hasil yang beragam
Gen AI mampu menghasilkan output yang tampak beragam dan original.
Produktivitas organisatoris
Gen AI mampu menjawab pertanyaan dengan gaya layaknya manusia, mengurangi beban kerja pada tugas-tugas yang membosankan dan monoton, menyajikan ringkasan topik kompleks yang mudah dipahami, serta menghasilkan terjemahan dan transkrip secara otomatis, dan sebagainya. Hal ini dapat membantu meningkatkan produktivitas yang bersifat organisatoris.
Personalisasi
Model Gen AI dapat mengingat interaksi sebelumnya, sehingga menghasilkan pengalaman percakapan yang lebih koheren dan relevan bagi user. User dapat meminta model tertentu untuk mengingat gaya penulisan user. Gen AI mampu memberikan respons cepat, yang memungkinkan terjadinya interaksi kilat dan aplikasi berbasis waktu nyata (real-time).
Penerapan di industri
Gen AI kini telah terintegrasi ke dalam perangkat pembelajaran dan pekerjaan sehari-hari kita, seperti Copilot dalam Microsoft Office, dan lainnya. Diperkirakan bahwa sebagian besar industri dan tempat kerja akan menggunakan Gen AI di masa mendatang untuk meningkatkan dan mengoptimalkan kinerja mereka.
Kontra
Kurangnya kepercayaan dan autentisitas
Data yang digunakan untuk melatih model Gen AI sudah mengandung banyak ketidakakuratan dan bias, sehingga dapat dengan mudah membuat berita palsu dan deepfake (pemalsuan digital yang begitu realistis sehingga mampu meniru suara atau rupa seseorang secara meyakinkan).
Sebagian besar model Gen AI dibuat untuk memberikan output berdasarkan prompt dan pelatihan. Output tersebut dirancang agar tampak meyakinkan bahkan ketika tidak ada dasar faktualnya. Akibatnya, ‘fakta’ yang disajikan mungkin tampak dapat dipercaya, padahal kesan tersebut keliru. Oleh karena itu, semua keluaran dari berbagai alat AI harus diverifikasi secara independen kebenarannya.
Hak cipta dan kepemilikan
Output Gen AI meniru atau merangkum konten yang sudah ada, sering kali tanpa izin dari pemilik konten aslinya. Ketidak sediaan peraturan hukum yang memadai di bidang yang berkembang pesat ini dengan cepat akan menimbulkan masalah terkait hak cipta, kepemilikan, kekayaan intelektual.
Sebaiknya jangan menyalin dan menempelkan teks yang dilindungi hak cipta, atau data sensitif maupun pribadi lainnya, ke dalam alat AI untuk diproses. Alat AI tersebut dapat memasukkan data ini ke dalam kumpulan data pelatihannya, yang kemudian bisa saja digunakan secara ilegal atau tidak etis.
Jejak karbon
Pelatihan Gen AI membutuhkan daya yang sangat besar, yang secara tidak langsung menghasilkan emisi karbon dalam jumlah besar pula. Hal ini memiliki dampak signifikan terhadap perubahan iklim.

Sumber: thesustainableagency
Siklus umpan balik
Output dari Gen AI membanjiri internet melalui berbagai alat seperti ChatGPT. Model-model selanjutnya yang dilatih menggunakan konten daring—yang sebelumnya dihasilkan oleh model GPT terdahulu—akan mewarisi segala bias dan kesalahan yang ada pada konten tersebut. Siklus ini akan memperparah kesalahan dalam data tersebut. Hal ini dapat mencemari data pelatihan dan berujung pada keruntuhan model (model collapse). Keruntuhan model terjadi ketika model melupakan sebagian besar data asli yang menjadi dasar pembelajarannya.
Kesimpulan
AI sudah tidak dapat dipungkiri lagi keberadaannya, dan sudah menjadi bagian sehari-hari untuk sebagian besar penduduk Indonesia. AI juga sangat berguna dan dapat diimplementasikan dalam berbagai hal. Namun, Gen AI memiliki beberapa kontra yang patut ditelaah dan dicerna lebih dalam lagi. Apakah itu berarti kita harus berhenti memakainya? Mustahil rasanya, karena perkembangan era digital yang amat cepat dan adanya demand dari user itu sendiri. Masa depan memang tidak pasti, namun dengan adanya dialog ini merupakan langkah awal yang baik dalam penggunaan GenAI. Alangkah baiknya kita dapat lebih bijak dalam menggunakan Gen AI untuk kedepannya.