Franchise Makanan Worth It di 2026? Cek 7 Pilihan Ini!



Eatlah

Sumber: Eatlah

Franchise Makanan

Kalau lagi mikirin mau mulai usaha tapi bingung mau jual apa, franchise makanan sebenarnya jalan pintas yang bisa dibilang masih oke sih. Kamu nggak perlu pusing mikirin resep, branding, sampai strategi marketing dari nol karena semuanya udah disiapin sama franchisor. Tinggal jalanin sesuai SOP, dan kalau brand-nya udah punya nama, orang-orang bakal lebih gampang percaya buat beli.

Tapi yang perlu kamu inget, nggak semua franchise otomatis bisa cuan juga. Ada yang modalnya gede tapi balik modalnya lama, ada juga yang murah tapi persaingannya udah terlalu ramai. Nah, artikel ini akan membahas beberapa opsi franchise makanan yang masih relevan dan worth it buat dicoba, mulai dari yang modalnya kecil banget sampai yang butuh dana lebih besar tapi potensinya juga mungkin lebih stabil.

Kenapa Franchise Makanan Masih Jadi Pilihan Favorit?

Bisnis kuliner itu kebutuhan yang nggak akan mati karena orang tetap butuh makan setiap hari apapun kondisi ekonominya. Oleh karena itu, franchise makanan selalu jadi kategori waralaba paling ramai peminat dibanding sektor lainnya.

Selain itu, franchise punya beberapa keunggulan yang bikin risiko gagal lebih kecil dibanding bikin brand sendiri dari nol:

  • Sistem sudah teruji. Resep, standar rasa, sampai cara operasional udah dites dan terbukti jalan di banyak cabang lain.
  • Brand awareness instan. Kalau namanya udah dikenal, kamu nggak perlu effort besar buat edukasi pasar soal produk itu apa.
  • Support dari franchisor. Biasanya kamu dapat pelatihan, bantuan supply bahan baku, sampai dukungan marketing.
  • Lebih cepat balik modal dibanding bikin usaha sendiri dari nol, karena kamu nggak perlu trial and error buat nyari formula yang pas.

Sebelum masuk ke daftar rekomendasi, penting juga buat tahu kriteria franchise yang “sehat” biar nggak salah pilih:

  1. Produknya kebutuhan harian, bukan sekadar tren viral sesaat. Makanan yang orang beli berulang kali biasanya lebih stabil dibanding jajanan viral yang cepat naik terus cepat turun.
  2. Modal sesuai kemampuan dan realistis dengan target lokasi. Jangan maksain modal besar kalau lokasi usahamu belum tentu ramai.
  3. Transparansi soal Surat Perjanjian Waralaba (SPW) dan Surat Tanda Pendaftaran Waralaba (STPW). Franchise yang legit biasanya jelas dokumen legalnya.
  4. Support system-nya jelas, bukan cuma jual nama doang tapi nggak ada pendampingan.

1. Franchise Makanan Kebab Baba Rafi -> Klasik yang Nggak Pernah Mati

Kebab Baba Rafi

Sumber: Kebab Turki Baba Rafi

Kebab Baba Rafi ini termasuk franchise makanan senior di Indonesia yang sampai sekarang masih eksis. Menariknya, brand ini cocok banget buat lokasi sekitar kampus, sekolah, atau area perkantoran karena harga produknya terjangkau dan porsinya mengenyangkan.

Estimasi omzet dari satu outlet kebab bisa tembus Rp500.000 per hari, yang berarti potensi penghasilan kotor sekitar Rp15.000.000 per bulan. Cocok buat pemula yang mau mulai dari skala kecil sebelum ekspansi ke lokasi lain.

2. Sabana Fried Chicken -> Ayam Goreng yang Selalu Ada Pasarnya

Produk ayam goreng krispi memang seakan nggak pernah kehilangan penggemar. Maka dari itu, Sabana Fried Chicken jadi salah satu opsi yang cukup populer karena harga jualnya ramah kantong tapi porsinya nggak pelit.

Dari sisi modal, franchise ini termasuk terjangkau, sekitar Rp20 jutaan kamu sudah bisa jadi mitra dan dapat paket lengkap peralatan seperti gerobak, deep fryer, sampai survei lokasi dan pelatihan. Potensi omzetnya bisa mencapai sekitar Rp20.000.000 dalam satu bulan, tergantung lokasi dan seberapa ramai lalu lintas orang di sekitarnya.

3. Martabak San Fransisco -> Comfort Food yang Selalu Laku

Makanan yang satu ini punya tempat khusus di hati orang Indonesia, apalagi kalau lagi pengin sesuatu yang manis atau gurih di malam hari. Martabak San Fransisco jadi salah satu nama besar di kategori ini, terutama di area Bandung, Jakarta, dan sekitarnya.

Modal yang dibutuhkan memang nggak kecil, sekitar Rp90 juta, tapi potensi baliknya juga cukup cepat. Dalam waktu sekitar 3 bulan, bisnis ini bisa balik modal dengan potensi pendapatan harian sekitar Rp1 juta dari penjualan martabak. Kalau kamu punya modal lebih dan mau main di segmen yang sudah punya nama besar, opsi ini layak dipertimbangkan.

4. Franchise Makanan Donat Bakar -> Modal Kecil, Konsepnya Unik

Buat yang budgetnya masih terbatas, Dokar alias Donat Bakar bisa jadi pilihan menarik. Bedanya dari donat biasa, produk ini nggak cuma digoreng tapi juga dibakar sebelum disajikan, dengan puluhan varian rasa.

Franchise ini sudah ada sejak 2008 dan punya lebih dari 66 cabang di seluruh Indonesia. Meskipun begitu, modal buat gabung jadi mitra terbilang ramah kantong, sekitar Rp7,5 juta sampai Rp9,3 juta, sudah termasuk booth, x-banner, menu, kompor, tabung gas, seragam karyawan, dan bahan training. Klaim dari pihak franchisor, tiap mitra berpotensi meraup omzet sekitar Rp11 juta sampai Rp15 juta per bulan.

5. Es Teh Poci -> Minuman Pendamping yang Modalnya Ringan

Kalau mau kombinasi produk makanan dengan minuman pelengkap, Es Teh Poci sering jadi pilihan karena konsepnya sederhana dan sudah dikenal luas. Modal buat jadi mitra dimulai dari sekitar Rp6 juta saja, jadi cocok buat yang mau mulai kecil-kecilan dulu, bisa dijadikan pelengkap booth makanan utama biar variasi produknya lebih banyak.

6. Wowteg -> Warteg Naik Kelas

Buat kamu yang suka konsep makanan rumahan tapi dikemas lebih modern dan higienis, Wowteg bisa jadi opsi menarik. Ini semacam reinvented warteg yang dikelola langsung oleh Sour Sally Group, jadi standar kualitas dan operasionalnya lebih terstruktur dibanding warteg konvensional.

Modal kemitraannya sekitar Rp250 juta termasuk booking fee, dan sudah mencakup training karyawan, POS system, peralatan, renovasi kedai, initial supply, sampai marketing tools. Ada dua pilihan luas tempat, kategori “canteen” seluas 12 meter persegi dan “street level” hingga 30 meter persegi. Cocok buat yang mau serius berinvestasi di segmen makanan berat sehari-hari dengan skala lebih besar.

7. Eatlah -> Ayam Saus Telur Asin yang Kompetitornya Masih Sedikit

Eatlah dikenal lewat menu andalannya, ayam dengan saus telur asin yang punya basis penggemar loyal. Salah satu daya tarik utamanya adalah persaingan di kategori ini belum seramai ayam goreng krispi biasa.

Modal yang dibutuhkan memang di kelas menengah ke atas, berkisar antara Rp300 juta sampai Rp500 juta. Meski begitu, minimnya kompetitor di niche ini jadi peluang buat meraup keuntungan yang lebih besar dibanding kategori makanan yang sudah terlalu jenuh pemainnya.

Jadi, Mending Pilih Franchise Makanan yang Mana?

Semua balik lagi ke kondisi modal, target pasar, dan lokasi kamu. Kalau mau mulai kecil dulu buat coba-coba sambil belajar jualan, Donat Bakar atau Es Teh Poci bisa jadi pintu masuk yang risikonya minim. Kalau udah punya modal lebih dan mau main di skala yang lebih serius dengan potensi cuan lebih besar, Martabak San Fransisco, Wowteg, atau Eatlah layak dipertimbangkan.

Yang paling penting sebelum tanda tangan kontrak kemitraan, selalu cek dulu legalitas franchise-nya, minta laporan keuangan dari mitra lain yang udah jalan lebih dulu kalau bisa, dan survei langsung lokasi yang mau kamu pakai. Franchise emang ngasih “jalan pintas”, tapi bukan berarti nggak ada tanggungjawab atau pertimbangan lainnya ya, tetap butuh eksekusi dan konsistensi biar bisnisnya jalan lancar. Selamat mencari tahu lebih banyak ya, semoga kamu nemuin yang cocok sama budget.

Sumber:

  1. Investasiku.id — 10 Franchise Makanan Terbaik, Cocok Untuk Pebisnis Pemula
  2. Amartha Blog — Bisnis Franchise Rp20 Juta, Dapat Apa Saja?
  3. Amartha Blog — Rekomendasi Bisnis Franchise dengan Modal di Bawah Rp10 Juta
  4. OCBC NISP — Franchise Makanan untuk Pemula, Modal Kecil Untung Besar
  5. OCBC NISP — 15 Franchise Makanan Terlaris dan Sedang Trend
  6. IDX Channel — Kisaran Modal Franchise Warteg
  7. ESB.id — 30 Rekomendasi Franchise Menguntungkan 2026

Baca juga 5 Makanan Sehat Yang Mudah Dibuat dan Praktis Untuk Sehari-Hari